Tugulufa Potensi Wisata yang Terabaikan

Kota Tidore174 Dilihat

SEPUTARMALUT.ID – Kawasan Tugulufa di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, sejatinya adalah permata daerah yang sangat menjanjikan. Dengan lokasi strategis di pesisir, kawasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu yang memadukan keindahan alam pantai dan daya tarik kuliner lokal , . Namun, di balik potensi tersebut, terdapat realita yang miris: kawasan ini terkesan kurang mendapatkan perhatian serius dari instansi terkait, mulai dari aspek perawatan infrastruktur hingga tingkat kebersihan yang memprihatinkan.

Fakta di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan antara harapan pembangunan dan kenyataan sehari-hari. Sebagai contoh, pernah tercatat adanya masalah genangan air di jalan kawasan Tugulufa yang bahkan dimanfaatkan warga untuk mencuci kendaraan . Kondisi ini merupakan indikator jelas bahwa sistem drainase dan perawatan jalan tidak berfungsi secara optimal. Ironisnya, solusi yang sering muncul justru berupa kegiatan “kerja bakti” massal yang melibatkan Pemkot, Forkopimda, TNI, Polri, hingga komunitas masyarakat , .

Meskipun semangat gotong royong adalah nilai luhur yang patut diapresiasi, ketergantungan pada kegiatan insidental seperti kerja bakti sebenarnya adalah “lampu kuning” bagi kinerja instansi terkait.

Kebersihan dan perawatan sebuah kawasan publik seharusnya dikelola melalui sistem manajemen yang rutin, terstruktur, dan berkelanjutan. Gerakan bersih-bersih tidak boleh menjadi pengganti dari tanggung jawab utama dinas teknis dalam memelihara fasilitas umum. Ketika pemeliharaan harian dibiarkan menumpuk, beban untuk membersihkannya pun akan semakin berat, dan citra kawasan wisata akan terus memburuk.

Dampak dari pengabaian ini sangat nyata dan merugikan. Kawasan yang seharusnya menjadi ikon wisata dan penggerak ekonomi kreatif masyarakat setempat justru berisiko kehilangan daya tariknya . Pengunjung tentu akan enggan datang ke tempat yang kotor, tidak terawat, dan tidak nyaman. Pada akhirnya, masyarakat lokal yang menggantungkan harapan ekonomi pada sektor pariwisata dan kuliner di Tugulufa akan menjadi pihak yang paling dirugikan.

Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma yang mendasar dalam pengelolaan Kawasan Tugulufa.

Harus hadir secara nyata dan rutin. Alokasi anggaran untuk perawatan fasilitas umum, pengangkutan sampah harian, dan perbaikan drainase harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap atau proyek musiman.

pelibatan masyarakat dan komunitas dalam menjaga kebersihan, seperti program Zero Sampah Plastik yang pernah dicanangkan di kawasan ini, harus terus didukung secara serius . Namun, dukungan ini tidak boleh berhenti pada ajakan moral atau seremonial semata. Pemerintah wajib menyediakan infrastruktur penunjang yang memadai, seperti tempat sampah terpilah yang cukup, jadwal pengangkutan yang disiplin, serta penegakan aturan bagi pihak yang mencemari lingkungan.

Kawasan Tugulufa berhak mendapatkan wajah yang lebih baik, bersih, dan terawat. Ini bukan sekadar soal estetika kota, melainkan soal martabat daerah dan kesejahteraan warga Tidore Kepulauan. Sudah saatnya instansi terkait bertransformasi dari sekadar “pengatur acara insidental” menjadi “penjaga keberlanjutan” yang bekerja nyata setiap hari. Jika tidak, potensi besar Tugulufa hanya akan menjadi kenangan yang perlahan tergerus oleh sampah dan fasilitas yang rusak.

Untuk diketahui , Kawasan Tugulufa sebagai taman kota dan kawasan kuliner terpadu mulai dibangun dan dikembangkan secara serius oleh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan sekitar tahun 2018–2019 dimasa pemerintahan mediang Achmad Mahifa . Pada periode ini, kawasan tersebut mulai ditata sebagai ruang publik dan destinasi wisata pesisir.

Revitalisasi besar-besaran di kawasan ini dilakukan oleh instansi vertikal Kementerian PUPR, yaitu Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Maluku Utara dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku Utara pada tahun 2021–2022 pada masa kepemimpinan Capt H Ali Ibrahim selaku wali kota dan Muhammad Sinen yang saat ini menjabat sebagai wali kota Tidore kepulauan sebagai wakil wali kota saat itu .Langkah percepatan penataan ini  dilakukan secara khusus untuk menunjang perhelatan acara nasional Sail Tidore 2022 lalu.

Kawasan Tugulufa yang kini menjadi aset pemerintah kota Tidore kepulauan. tantangan terkait perawatan berkelanjutan dan kebersihan di kawasan ini masih jauh dari perhatian perpanjangan tangan dari kepemimpinan wali kota wakil wali kota Tidore Muhammad Sinen dan Ahmad Laiman di sejumlah OPD yang berkaitan langsung dengan kawasan Tugulufa.*

Oleh: Mardianto Musa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *