Dari Papua Mendiang Achmad Mahifa, Jadi Wali Kota Pertama Tidore yang Dipilih Langsung

Kota Tidore237 Dilihat

TIDORE – Kabar duka yang menyelimuti Kota Tidore Kepulauan pada awal Oktober 2026 membawa serta rasa kehilangan yang mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat. Drs. H. Achmad Mahifa, mantan Wali Kota Tidore Kepulauan yang memimpin daerah ini selama dua periode berturut-turut, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 22.30 WIT di Rumah Sakit Daerah (RSD) Tidore Kepulauan dalam usia 80 tahun.

Perjalanan hidup Achmad Mahifa adalah definisi nyata dari ketekunan yang mengalahkan keterbatasan. Ia lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga sederhana di Dusun Gurabunga kala itu kini menjadi kelurahan Gurabunga yang terletak di lereng Gunung Kie Matubu Di tahun 1950-an, anak-anak dari dusun yang jauh dari jangkauan fasilitas modern ini kerap dianggap tidak memiliki harapan untuk melampaui nasib lazim seorang laki-laki gunung. Namun, Mahifa muda memiliki mimpi yang berbeda. Didukung oleh alam, doa, dan keteguhan hati, ia berjuang menempuh pendidikan di tengah kondisi yang serba sulit. Tekadnya untuk menjadi seorang pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya akhirnya membawanya meniti karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Irian Jaya yang kini kenal dengan Papua. Selama bertahun-tahun, ia mengabdi sebagai birokrat karir, menaiki jenjang jabatan struktural di lingkungan pemerintah daerah dengan dedikasi, integritas, dan pemahaman mendalam tentang denyut nadi masyarakat.

Sebelum kembali ke kampung halamannya dan terpilih menjadi Wali Kota Tidore Kepulauan, mendiang Drs. H. Achmad Mahifa memang menempa karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Papua pernah menjadi Kepala Distrik Demta di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua . Pengalaman mengabdi di tanah Papua ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya sebagai birokrat.

Setelah meniti karir dan meraih pengalaman berharga di Papua, Achmad Mahifa kemudian kembali ke Tidore. Bekal pengabdiannya sebagai PNS yang berpengalaman inilah yang kemudian mengantarkannya untuk terjun ke politik lokal dan meraih kepercayaan rakyat sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan pertama yang dipilih secara langsung melalui Pilkada pada tahun 2005. Berpasangan dengan Salahuddin Adrias, ia memenangkan kepercayaan rakyat untuk memimpin periode 2005–2010. Rekam jejak pembangunannya yang tenang, terarah, dan dekat dengan rakyat membuat masyarakat kembali memberinya mandat untuk periode kedua (2010–2015), kali ini berpasangan dengan Hamid Muhammad. Selama satu dekade di kursi nomor satu di Tidore, Mahifa dikenal tetap konsisten memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar serta pemberdayaan masyarakat.

Malam itu, Kamis, 1 Oktober 2026, sang putra terbaik Tidore itu menutup mata untuk selamanya. Kabar wafatnya langsung memicu gelombang duka. Sebagai wujud penghormatan terakhir, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan yang dipimpin oleh Wali Kota Muhammad Sinen menggelar prosesi pelepasan jenazah pada Jumat pagi, 2 Oktober 2026, di kediaman almarhum di Kelurahan Goto, Kecamatan Tidore. Ribuan masyarakat, rekan-rekan birokrat, serta tokoh agama dan adat turut hadir mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Keluarga Goto.

Dalam sambutannya, Wali Kota Muhammad Sinen menyatakan, “Semasa hidupnya, almarhum telah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk Tidore. Beliau adalah guru dan teladan bagi kami semua, seorang pemimpin yang datang dari rakyat, berjuang untuk rakyat, dan akhirnya kembali beristirahat di tengah-tengah rakyat yang dicintainya.”Tutur Muhammad Sinen. (Mas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *