TIDORE – Gelombang penyakit flu dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tengah melanda masyarakat Kota Tidore belakangan ini. Namun, di tengah tingginya angka warga yang terpapar, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mendapat sorotan tajam dari publik.
Dinkes dinilai tidak hadir secara nyata melindungi masyarakat, melainkan hanya melakukan tindakan seremonial yang dianggap “mencari perhatian”. Pantauan di lapangan, sejumlah apotek dan klinik di Tidore ramai diserbu warga. Karena tidak adanya layanan preventif atau posko kesehatan yang disediakan Dinas Kesehatan , masyarakat terpaksa berobat mandiri dengan merogoh kocek pribadi untuk membeli obat flu, batuk, dan vitamin.
Keluhan keras pun mencuat terkait langkah Dinkes Tidore yang dinilai tidak peka dan tidak tepat sasaran. Selama wabah ini berlangsung, upaya Dinkes yang terlihat oleh publik hanyalah pembaruan informasi mengenai kondisi kualitas udara di media sosial, serta pembagian masker yang hanya dilakukan selama satu hari di halaman kantor Dinkes.
“Kesan kami Dinkes cuma cari perhatian. Bagi-bagi maskernya cuma sehari di depan kantor sendiri. Terus kami yang tiap hari kerja di luar ruangan ini bagaimana? Cuma dikasih info udara bagus atau tidak, tapi tidak ada aksi nyata,” keluh Hadija salah satu warga Tidore, Minggu (18/10).
Masyarakat menyayangkan tidak adanya upaya jemput bola atau distribusi masker yang menyasar kelompok rentan dengan mobilitas tinggi di ruang terbuka. Padahal, kelompok inilah yang paling terpapar polusi, debu, dan risiko penularan flu.
Para pedagang di pasar , dan sopir speedboat di pelabuhan, hingga pembawa bentor dan tukang ojek yang tiap hari menghirup udara terbuka, seolah terabaikan. Mereka tidak mendapatkan fasilitas masker gratis maupun edukasi kesehatan langsung dari jajaran Dinkes.
“Kami sopir speedboat dan ojek di pelabuhan ini tiap hari kena angin, asap kapal, dan debu. Harusnya Dinkes turun langsung bagi masker ke pasar, ke pelabuhan, ke pangkalan ojek dan angkot bento. Kami yang tiap hari di luar ruangan ini yang paling butuh, bukan orang yang duduk di dalam kantor,” tegas seorang sopir angkot.
Senada dengan itu, para pedagang pasar juga mengaku terpaksa terus berjualan meski sedang flu karena tuntutan ekonomi, namun tidak ada bantuan masker dari dinas terkait.
“Masker di apotek juga harganya makin naik, kalau Dinkes mau bantu, ya bagi ke kami-kami yang di pasar ini,” tambah seorang pedagang sayur.
Publik kini mendesak Dinkes Tidore untuk berhenti sekadar membuat update kondisi udara dan lebih peka terhadap kondisi lapangan.
Masyarakat menuntut adanya distribusi masker yang masif dan tepat sasaran ke titik-titik keramaian serta ruang terbuka, serta kehadiran tenaga kesehatan yang turun langsung ke tengah masyarakat, bukan hanya menunggu warga yang datang berobat ke puskesmas. (mas)








