TERNATE – Sektor perikanan dan perkebunan rakyat kembali menjadi motor penggerak ekonomi perdesaan di Maluku Utara. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Maluku Utara pada Maret 2026 tercatat sebesar 103,50, atau mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 102,34.
Kenaikan NTP ini menjadi sinyal positif menguatnya daya beli petani di Bumi Moloku Kie Raha. Indikator NTP di atas angka 100 menunjukkan bahwa indeks harga yang diterima petani (It) lebih besar dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar (Ib), yang mencakup konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.
Kepala BPS Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, dalam siaran persnya pada Rabu (1/4/2026), mengungkapkan bahwa performa impresif ini didorong oleh dua subsektor utama. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,49 persen.
“Kenaikan pada subsektor perkebunan rakyat dipicu oleh melonjaknya harga rata-rata komoditas unggulan daerah, terutama cengkeh dan kelapa, yang naik hingga 2,56 persen di tingkat petani,” ujar Simon.
Tak hanya perkebunan, sektor kelautan juga menunjukkan taringnya. Subsektor Perikanan tumbuh 1,16 persen, dengan kelompok penangkapan ikan (Nilai Tukar Nelayan/NTN) naik 1,18 persen. Komoditas ikan cakalang menjadi primadona yang mendongkrak pendapatan nelayan di perairan Maluku Utara sepanjang Maret 2026.
Namun, di tengah tren positif tersebut, potret berbeda terlihat pada subsektor Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan yang justru mengalami kontraksi. NTP Tanaman Pangan turun 0,85 persen, disusul Hortikultura turun 0,62 persen, dan Peternakan turun 0,55 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh fenomena “gunting” ekonomi, di mana kenaikan harga jual hasil tani tidak mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup dan modal produksi. Sebagai gambaran, meski harga palawija seperti ketela pohon dan kacang hijau naik 0,38 persen, namun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) melonjak lebih tinggi sebesar 0,89 persen.
“Di subsektor hortikultura, meskipun harga tomat, cabai merah, dan jeruk mengalami kenaikan, daya beli petani tetap tertekan karena biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,72 persen,” tambah Simon.
Secara umum, meski biaya konsumsi rumah tangga di perdesaan (IKRT) Maluku Utara naik 0,85 persen pada Maret 2026, kuatnya harga komoditas ekspor seperti cengkeh dan hasil laut tetap mampu menjaga posisi NTP Maluku Utara di jalur pertumbuhan positif.
Pemerintah daerah diharapkan terus memantau stabilitas harga barang konsumsi di tingkat perdesaan agar kenaikan pendapatan petani dari komoditas unggulan tidak tergerus oleh inflasi kebutuhan pokok. (um)

