Mahasiswa yang Tak Lagi Menjadi Mahasiswa

Opini213 Dilihat

TIDAK ada kata terlambat, hanya ada memulai lebih awal dan lebih akhir dari pada yang lain. Bangkit sekarang, mulai lah belajar dan jangan jadikan kata terlambat sebagai alasan.”

Kampus adalah salah satu tempat yang paling strategis bagi bersemainya intelektual, karena para dosen cendekiawan dan para mahasiswa, kebebasan yang begitu besar yang diberikan pada mahasiswa untuk berfikir agar mampu meningkatkan kapasitas dalam memandang segala hal, Semangat intelektual yang di bangun dalam dunia kampus tidak lain dan tidak bukan untuk mancari kebebasan dalam berbicara maupun berpendapat.

Semangat intelektual merupakan satu bentuk untuk mengaktifkan cara berfikir untuk mencari sesuatu yang tak diketahui, Semangat intelektual juga mampu merubah sesuatu yang tak mampu di rubah, Karena intelektual adalah bagian dari semangat untuk membebaskan diri dari kebelenggugan

Kritikan demi kritikan yang dibangun oleh mahasiswa untuk penguasa adalah kebebasan yang di lindungi undang-undang, kritikan yang di lontarkan para mahasiswa untuk penguasa di ibaratkan kopi tanpa gula meski pahit tapi menyenangkan, semangat ini yang sudah di lindungi mestinya harus di jaga hingga pada akhir waktu.

Tugas dari mahasiswa bukan hanya sekedar belajar dalam dunia kampus saja, tetapi harus melihat keluar persoalan-persoalan yang terjadi, agar semangat intelektual bukan hanya diperuntukan dalam dunia kampus, tatapi diluar dari pada kampus juga. agar tercapainya tugas mahasiswa yang sesungguhnya sebagai Creator of Change, Agen Of Change, Social Control dan Iron Stock. (Hidayat, 2025)

Kita bisa melihat semangat mahasiswa di era orde lama maupun orde baru yang mungkin jauh berbeda dengan era sekarang ini, banyak orang-orang cerdas yang lahir di jaman itu seperti Lafran Pane, mohammad syafa’at mintaredja, dan yang lain yang memang betul-betul matang dalam semangat berintelektual, semangat yang di bangun pada era saat itu seperti, Elang Mulia Lesmana, Heri, Hafidin Royan dan yang lain yang mampu meruntuhkan para penguasa di jaman itu.

Pada tahun 1963-1964 Indonesia mengalami krisis yang memunculkan disintegrasi sosial ekonomi akibat dari kegelisahan dan kebingungan yang dirasakan rakyat. Kondisi politik Indonesia tahun 1960 sampai 1965 diwarnai oleh tiga kekuatan besar yaitu Soekarno, ABRI khususnya Angkatan Darat, dan Partai Komunis Indonesia. (Damayanti, 2022)

Gerakan mahasiswa tahun 1966 merupakan wujud dari bangkitnya rasa kepedulian mahasiswa akan nasib bangsa dan negaranya, sehingga pada saat itu mahasiswa melahirkan tiga tuntutan yaitu, Bubarkan Partai Komunis Indonesia, Rombak Kabinet Dwikora dan turunkan harga-harga, Namun dalam perkembangannya karena ketidaktegasan Presiden Soekarno dalam mengatasi masalah membuat tuntutan bertambah menjadi memberhentikan Presiden Soekarno yang digambarkan melalui kampanye anti Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1966.

Yang menjadi persoalan di kalangan Mahasiswa saat ini Sudah lupa pada tugas dan hakikatnya. Karakter intelektual, kritis, analisa tajam, Sistematis, Objektif, Rasional dan memperjuangkan masa depan bangsa, seolah-olah punah dalam jati dirinya, buku suda menjadi musu mreka sedangkan Henpone menjadi sahabat mereka hari berganti hari selembar buku tidak mereka sentuh, padahal seharusnya mahasiswa menjadi individu yang aktif dalam proses belajar tidak hanya menerima ilmu tapi juga mengali pengetahuan lebih mendalam, harus kritis dalam berfikir,bertindak,mampu menganalisis informasi dan inovatif dalam mencari solusi

Di era sekarang ini Mahasiswa sudah tidak terlalu mementingkan intelektualnya, sehingga jarang kita menemukan mahasiswa yang semangat intelektualnya persis dengan mahasiswa pada jaman orde lama maupun orde baru, ini menandakan bahwa mahasiswa di era sekarang ini sudah tidak lagi mementingkan peningkatan pengetahuan, karakter yang merusak sistem pendidikan, mereka tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga menghambat kemajuan bangsa. Mereka hanya fokus pada kesenangan sesat, gaya baju, celana, mereka tidak sadar bahwa mereka berada di Jona nyaman tanpa arah

Kampus suda tidak lagi menjadi tempat pertarungan intelektual, sehingga Kampus dijadikan sebagai tempat bermain dan kampus dijadikan sebagai Pertarungan penampilan serta kapuas dijadikan sebagai tempat untuk bersenang-senang. Ruang-ruang diskusi yang suda tidak lagi berjalan Buku suda tidak lagi di sentuh dalam perpustakaan.

Bahkan mereka tidak mempunyai visi dan misi yang jelas mereka tidak tau apa yang mereka capai dan bagaimana mereka mancapainya, mereka berjalan hari-hari tanpa mereka sadari mereka jalan tanpa tujuan seperti Zombie yang berjalan tanpa arah yang jelas, mereka adalah beban bagi masyarakat mereka hanya menjadi orang yang pasif di setiap perjalanan. Lebih paranya kurang cenderung peduli terhadap dengan isu-isu sosial dan lingkungan sekitar, suara-suara corong yang suda tidak lagi terdengar, serta tidak memiliki kesadaran untuk berkontribusi pada masyarakat dan membuat perubahan positif ini sangat di sayangkan sebab seharusnya mahasiswa menjadi agen perubahan

Narasi di atas mengingatkan pada kita semua agar terus melangka, untuk belajar, agar tidak terkurung dalam ketidaktahuan, agar mampu mencapai tugas mahasiswa sebagai agent of change, agent of intellectual dan agent of social control. (*)

Oleh : Abdullah Palias

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *