Asrama Mabapura Diabaikan: Mahasiswa Kecam Pemdes, PT NKA & BUMDES Diduga Main Anggaran

Halmahera Timur53 Dilihat

SEPUTARMALUT.ID – Mahasiswa asal Mabapura, Halmahera Timur, angkat suara. Pembangunan Asrama Mahasiswa Mabapura tak kunjung selesai.

Padahal asrama digagas pemuda-mahasiswa sebagai langkah strategis meningkatkan SDM dan memudahkan generasi mendatang mengakses pendidikan tanpa beban biaya tempat tinggal dan hidup. Alih-alih jadi prioritas, asrama justru dijadikan proyek yang sarat kepentingan oleh Pemdes dan BUMDes.

Pembiaran Pembangunan Asrama Tanpa Kepastian

Kami mengecam keras kedua Pemdes Mabapura agar tidak memasukkan anggaran pembangunan asrama ke anggaran perubahan tanpa kejelasan pasti kapan asrama akan dibangun. Kedua Pemdes dan BUMDes segera selesaikan sengketa lahan asrama mahasiswa. Sejauh ini proses penyelesaian sengketa tidak pernah selesai. Pembangunan asrama sengaja dibiarkan menggantung, sementara biaya kos dan kebutuhan hidup terus mencekik mahasiswa.

Minim Transparansi, Dugaan Pemborosan Dana

Sampai hari ini Kepala Desa soasangaji dan direktur BUMDes diam tanpa kejelasan sengketa lahan pembangunan asrama yang kurang lebih hampir masuk dua tahun. Dari hasil pembahasan Agustus 2025, telah di sepakati dan akan di selesaikan pada akhir 2025. Namun masalah sengketa lahan asrama mabapura, sampai hari tak kunjung selesai dan minim transparansi.

Sejauh mana penyelesaian masalah lahan? Berapa uang BUMDes yang sudah terpakai? Untuk apa dana itu digunakan? Kami menduga kuat dana BUMDes habis untuk “mengurus masalah gaib” tanpa hasil jelas, padahal status hukum lahan masih belum pasti. Jika benar bekerja, buktikan. Buka status hukum lahan, total dana yang dipakai, dan peruntukannya. Publik berhak tahu proses dan langkah selanjutnya.

Korban Tanggung Jawab Antara PT NKA, Pemdes Dan Bumdes

Faktanya hari ini hanya saling lempar: PT NKA menunggu Pemdes selesaikan lahan. Pemdes menunggu BUMDes urus lahan. BUMDes menunggu anggaran PT NKA cair. Akibatnya mahasiswa dan generasi mendatang yang jadi korban. Banyak anak Mabapura yang ekonominya terbatas terpaksa mengubur cita-cita kuliah karena tidak mampu tanggung beban hidup setelah kuliah. Asrama mahasiswa bukan proyek, tapi program demi kemajuan umat dan bangsa. Asrama adalah hak dasar dan investasi SDM masa depan.

Pola Pembiaran pembangunan di Mabapura

Pembiaran ini tidak hanya pada asrama. Masjid Raya Mabapura juga mangkrak. Ironisnya, di tengah jalan desa yang rusak parah dan mengganggu aktivitas masyarakat, Pemdes justru fokus bangun pagar. Logikanya sederhana, jika jalan dibangun baik, motor dan mobil tidak hasilkan debu. Apa urgensi pagar jika jalan masih berlubang, minim aspal, hanya batu kerikil, dan rawan kecelakaan. Jika serius membangun desa, utamakan hajat hidup orang banyak: tempat ibadah, jalan baik, tempat olahraga, dan asrama mahasiswa, bukan pagar dan seremoni tanpa dampak.

Yang patut disalahkan dan dipertanyakan, kenapa jalan dan infrastruktur dasar tidak bisa dibangun, sementara daerah kita dikelilingi banyak perusahaan? Apakah perusahaan abai pada pembangunan daerah? Ataukah CSR untuk infrastruktur, ekonomi, dan SDM tidak digunakan baik dan maksimal? Ini harus dilacak dari pemerintah daerah, pemerintah desa, sampai pemerintah pusat. Jangan tanyakan pada batu, gorango, atau ikan tato. Itu potensi galap barang-barang ini. ***

Oleh : R. latawan

Pengurus Mahasiswa Mabapura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *