Kegagalan Desain Pelayanan Direktur RSUD Tidore

Kota Tidore431 Dilihat

SEPUTARMALUT.ID – Keluhan ini bukan sekadar tentang “pintu terkunci”, melainkan tentang beban psikologis dan fisik yang tidak seharusnya ditanggung oleh keluarga pasien.

Pengunggah dalam status Facebook menggambarkan kebingungan (“bingung mo masuk lewat pintu mana”), kelelahan fisik (“putar kasana putar kamari”), dan frustrasi emosional (“hati susah skali”). Bagi keluarga yang sedang mengantar orang tua sakit, energi mereka seharusnya difokuskan untuk menemani dan mendukung pasien, bukan habis untuk bernegosiasi dengan security atau mencari jalan pintas yang tidak jelas.

Rasa lelah yang dirasakan pembuat status dalam media sosial tersebut adalah valid. Sistem rumah sakit yang baik harusnya memangkas kesulitan, bukan menambahnya. Ketika keluarga pasien merasa “sengsara” hanya untuk bisa masuk gedung, itu adalah indikator kegagalan desain layanan.

Poin paling menyakitkan dalam cerita ini adalah sikap petugas keamanan yang digambarkan “asek bacarita” dan seolah “pura-pura buta” saat melihat keluarga kesulitan mendorong kursi roda.

Aturan “kunci pintu” boleh ada demi keamanan, tapi pengecualian untuk kondisi darurat/kemanusiaan (seperti lansia di kursi roda) harus bersifat otomatis, bukan menunggu “panggil baru dong ba kage”. Responsivitas petugas adalah nyawa dari sebuah institusi pelayanan.

Rumah Sakit wajib memenuhi standar aksesibilitas universal. Jika satu-satunya jalur masuk melibatkan tanjakan curam atau jalur memutar yang jauh, maka bangunan tersebut secara teknis belum layak melayani pasien dengan mobilitas terbatas.

Pemkot Tidore perlu melakukan audit aksesibilitas segera. Jangan sampai Rumah sakit yang bangga dengan fasilitas barunya justru menjadi “labirin” yang menyiksa bagi warganya sendiri. Jalur khusus kursi roda harus pendek, landai, dan selalu terbuka/terjaga.

Penggunaan dalil Hadits dan peringatan tentang “doa orang terzalimi” yang tertuang dalam status pada gambar tulisan hari ini menunjukkan bahwa kekecewaan ini sudah mencapai titik didih spiritual.

Ketika warga mengaitkan pelayanan buruk dengan dosa akhirat, artinya kepercayaan mereka terhadap integritas moral pengelola RS sudah retak. Mereka tidak lagi melihat ini sebagai kesalahan administratif, tapi sebagai kezaliman. Ini adalah teguran keras bagi manajemen Rumah sakit, Pelayanan kesehatan adalah ibadah sosial. Mengurus orang sakit adalah amanah. Jika aturan internal (SOP kunci pintu) bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan agama, maka aturan itulah yang salah, bukan nilai agamanya. Manajemen harus segera merefleksikan hal ini sebelum citra institusi hancur lebur di mata masyarakat religius seperti di Tidore.

Keluhan ini adalah cermin nyata dari betapa birokrasi kaku bisa membunuh rasa kemanusiaan. Di Tidore, di mana nilai kekeluargaan dan agama masih kuat, Rumah sakit harusnya menjadi tempat paling “ramah”, bukan tempat paling “ditakuti” karena gatekeeper-nya.

Jajaran rumah sakit kota Tidore (Direktur) sebaiknya tidak menunggu viral, seharusnya segera minta maaf secara personal kepada keluarga yang mengalami kejadian ini, dan perbaiki SOP di tempat. Semoga keluhan ini menjadi bahan evaluasi serius, bukan sekadar angin lalu di media sosial.

Oleh: Mas Antoth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *