80 Ribu Lebih Tanaman Perkebunan Terdampak Kemarau dan Kebakaran 

Kota Ternate12 Dilihat

TERNATE – Dinas Pertanian (Distan) Kota Ternate mencatat sebanyak 80 ribu lebih tanaman perkebunan masyarakat yang terdampak akibat musim kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Perkebunan Distan Kota Ternate, Istib Saroh, mengatakan, dalam peristiwa tersebut jenis perkebunan masyarakat seperti pala dan cengkih lebih mendominasi dampaknya, sementara perkebunan kelapa tergolong kecil.

Menurut Istib, perkebunan jenis pala diperkirakan mencapai 50 ribu pohon, sementara cengkih diperkirakan mencapai 31 pohon yang terdampak di wilayah Kecamatan Pulau Batang Dua.

“Di Batang Dua tanaman pala yang terdampak itu hampir 50 pohon lebih, sementara cengkih mencapai 31 ribu pohon. Kalau untuk perkebunan kelapa, tidak terlalu berdampak signifikan, palingan hanya pohon kelapa yang baru ditanami masyarakat,” katanya, Senin (5/10/2026).

Istib menyebutkan, jenis tanaman yang terdampak akibat musim kemarau dan karhutla didominasi usia produktif atau tanaman yang telah berhasil dipanen oleh masyarakat.

Selain itu, Istib mengungkapkan, untuk wilayah Pulau Moti dan Pulau Hiri sebanyak 9,600 tanaman perkebunan yang mengalami dampak akibat musim kemarau dan karhutla.

“Berdasarkan data yang kami dapat, untuk wilayah Pulau Moti terdapat 1,200 tanaman, sementara Pulau Hiri sebanyak 8,400 jenis tanaman yang terdampak akibat musim kemarau dan karhutla,” ungkapnya.

Sementara untuk wilayah perkotaan, kata Istib, hingga kini Dinstan Kota Ternate masih berupaya melakukan pendataan khususnya wilayah Kelurahan Moya yang beberapa hari sebelumnya mengalami kebakaran.

“Kalau untuk wilayah kota termasuk Kelurahan Moya, kami masih berupaya mendata. Kalau untuk luasan kebakaran lahan, kami telah bisa mendata, namun untuk jumlah tanaman perkebunan yang terbakar, kami belum bisa memastikan,” ujarnya.

Istib menjelaskan, data yang diperoleh melalui sejumlah cara seperti pendataan langsung oleh petugas di lapangan, laporan petani, laporan yang dilakukan pemerintah kelurahan, dan kelompok tani.

“Kendati telah mendapat laporan dari sejumlah kelompok, kami berharap agar masyarakat dapat melaporkan segala kejadian yang menimpa perkebunan. Hal itu dilakukan agar proses pendataan dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Karena masyarakat sedang mendapat tekanan diakibatkan sejumlah tanaman perkebunan dilanda kebakaran, Dinstan akan mengambil langkah untuk mendorong percepatan pemulihan terhadap perkebunan masyarakat.

Langkah tersebut, lanjut Istib, berupa melakukan pendataan terhadap sejumlah tanaman masyarakat yang mati. Hal itu dilakukan agar bisa melaporkan ke pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar melakukan rehabilitasi.

“Setelah melakukan pendataan, kami akan berupaya untuk mengusulkan kegiatan rehabilitasi tanaman yang rusak melalui program pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” ungkapnya. (dbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *