Asap Kiriman Kepung Maluku Utara

Kota Ternate143 Dilihat

TERNATE – Kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Ternate, Maluku Utara, mengacaukan jadwal penerbangan di Bandara Sultan Babullah, Senin (12/10/2026). Ratusan penumpang dari empat maskapai terpaksa menunggu tanpa kepastian keberangkatan setelah jarak pandang di bandara merosot hingga sekitar 1,5 kilometer.

Gangguan penerbangan tersebut berdampak pada operasional Garuda Indonesia, Batik Air, Sriwijaya Air, dan Lion Air. Sejumlah penumpang tujuan Jakarta, Makassar, dan Manado mengalami penundaan, bahkan beberapa penerbangan terpaksa dialihkan ke bandara lain.

Situasi ini membuat ruang tunggu Bandara Sultan Babullah dipenuhi penumpang yang menanti kepastian jadwal penerbangan. Sebagian mengaku hanya menerima pemberitahuan penundaan melalui surat elektronik tanpa penjelasan terperinci mengenai kondisi yang terjadi.

Adinda, salah seorang penumpang tujuan Makassar, mengatakan pesawat yang seharusnya ditumpanginya berangkat pukul 10.34 WIT. Namun, hingga Senin siang, ia belum memperoleh kepastian apakah penerbangan tersebut dapat diberangkatkan sesuai jadwal terbaru.

“Kita masih menunggu, untuk informasi berangkat atau tidaknya belum ada,” kata Adinda, seperti dikutip dari Kompas.com.

Menurut dia, pihak maskapai hanya mengirimkan pemberitahuan melalui email bahwa jadwal penerbangan ditunda hingga pukul 15.45 WIT.

“Katanya ada kabut asap di Ternate akibat karhutla,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Iksan, penumpang Garuda Indonesia tujuan Jakarta. Ia mengaku menerima pemberitahuan penundaan penerbangan dari pukul 08.00 WIT hingga pukul 13.00 WIT, tetapi tanpa keterangan yang jelas mengenai penyebabnya.

“Ada pemberitahuan dari jam 08.00 WIT hingga pukul 13.00 WIT, dikatakan menunda penerbangan tidak ada penjelasan karena cuaca atau apa pun,” kata Iksan.

Ia juga memperoleh informasi dari petugas bandara bahwa pesawat yang akan ditumpanginya masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju Ternate.

Jarak Pandang Merosot, Penerbangan Terganggu

Pelaksana Harian Kepala Bandara Sultan Babullah Ternate, Zainal Abidin, mengatakan gangguan akibat kabut asap telah terjadi sejak Minggu (11/10/2026). Saat itu, jarak pandang di kawasan bandara masih berkisar tiga kilometer.

Namun, kondisi memburuk pada Senin ketika jarak pandang turun menjadi sekitar 1,5 kilometer. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap kelancaran operasional penerbangan.

“Kabut ini cukup mengganggu, itu sudah terjadi dari kemarin, Minggu (11/10/2026). Berkisar visibility-nya tiga kilometer,” kata Zainal.

Ia menjelaskan, sejumlah penerbangan terpaksa dialihkan ke bandara lain, di antaranya Manado dan Gorontalo. Sementara itu, beberapa penerbangan dari Jakarta masih mengalami penundaan akibat kondisi jarak pandang yang belum memadai.

“Ada empat maskapai yang tertunda sejak kemarin, Batik Air, Sriwijaya, Garuda, dan Lion Air terdampak, dari Jakarta dan Makassar,” ujarnya.

Zainal menegaskan, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi kondisi tersebut. Operasional pesawat harus memperhatikan kondisi jarak pandang agar proses lepas landas maupun pendaratan tetap memenuhi aspek keselamatan.

Pihak bandara berharap kondisi atmosfer segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dapat kembali berjalan normal. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kabut asap diperkirakan berkurang pada siang hari.

“Kita berharap beberapa jam ke depan ada perubahan. Prediksi BMKG siang kabut berkurang,” kata Zainal.

Asap Kiriman Papua dan Halmahera

Sementara itu, Prakirawan Cuaca BMKG Kelas I Babullah Ternate, Fahmi Bachdar, menduga kabut dan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Maluku Utara dalam beberapa hari terakhir berasal dari kebakaran hutan di Papua dan beberapa titik di Halmahera.

“Kabut dan asap yang melanda sebagian besar wilayah Maluku Utara dalam beberapa hari terakhir merupakan kiriman asap dari wilayah Papua dan beberapa titik di Halmahera akibat kebakaran hutan yang cukup besar,” ujar Fahmi, Senin (12/10/2026).

Menurut Fahmi, pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara menuju barat laut sampai utara turut membawa kabut dan asap masuk ke wilayah Maluku Utara.

Dampaknya, tujuh kabupaten dan kota dilaporkan mengalami peningkatan kabut dan asap. Wilayah yang terdampak paling parah meliputi Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Utara, Halmahera Selatan, Kota Ternate, dan Kota Tidore Kepulauan.

Adapun dampak di Kabupaten Pulau Taliabu dan Kabupaten Kepulauan Sula dilaporkan tidak signifikan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya dirasakan di wilayah sumber kebakaran, tetapi juga dapat meluas ke daerah lain melalui pergerakan angin. Di Ternate, kabut asap tak sekadar mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memukul kelancaran transportasi udara dan membuat ratusan calon penumpang harus menunggu kepastian keberangkatan. (um)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *