“Taroh Saja Jadi Pajangan”: Kritik Tajam Ambulans Laut Pemkot Ternate

Kota Ternate194 Dilihat

TERNATE – Pelayanan kesehatan publik Pemkot Ternate kembali disorot buntut lambatnya penanganan ambulans laut terhadap pasien asal Kelurahan Tafamutu, Kecamatan Moti, Selasa (5/8/2026) lalu, hingga akhirnya meninggal dunia.

Sorotan tersebut datang dari praktisi hukum, Agus R. Tampilang.

Ia meminta Wali Kota Ternate segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait keterlambatan ambulans laut, terutama terhadap Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) dr. Fathiyah Suma selaku penanggung jawab.

Apabila dalam pemeriksaan terbukti ada faktor kelalaian, Agus mendesak agar dilakukan evaluasi total hingga pemberian sanksi berat berupa pencopotan jabatan.

“Pasien sudah menghubungi dan harus dirujuk, tapi kenapa sampai gagal dirujuk dan meninggal dunia? Ini berarti dari sisi pelayanannya kurang baik. Wali Kota harus mengevaluasi adalah langkah yang tepat supaya tidak terjadi hal serupa lagi, bila perlu dicopot kalau terbukti lalai, “desak Agus, Minggu (30/8/2026).

Ambulans laut tersebut, kata Agus, gagal menjalankan fungsi pelayanan dasar saat terjadi darurat medis.

“Ambulans laut dengan anggaran miliaran itu kan disediakan untuk melayani masyarakat, tapi kenapa pelayanannya seperti itu? Sampai orang di Moti harus menunggu berjam-jam. Kalau tidak efektif, mendingan tidak perlu ada ambulans laut. Taruh saja speedboat itu sebagai pajangan di kantor wali kota,” geram Agus.

“Anggaran besar tapi pasien kehilangan nyawa, ini tidak efektif,” sambungnya.

Agus menyarankan agar Wali Kota Ternate mengubah strategi penganggaran rujukan kesehatan. Daripada memusatkan operasional pada speedboat yang tidak siap pakai, anggaran tersebut sebaiknya dialokasikan langsung ke Puskesmas-Puskesmas di wilayah Moti, Hiri dan Batang Dua.

“Alangkah baiknya saya sarankan ke Wali Kota, titipkan saja anggaran operasional atau biaya rujuk itu di Puskesmas kecamatan yang ada di pulau-pulau luar Ternate. Itu jauh lebih efisien dan cepat. Pihak Puskesmas bisa langsung bergerak menggunakan anggaran itu untuk merujuk pasien ke kota tanpa harus menunggu penjemputan yang lama,” sarannya.

Agus juga meminta Wali Kota M. Tauhid Soleman untuk bertindak objektif dan tegas di sisa masa jabatannya ini.

Mahmud Harun meninggal dunia di Puskesmas Perawatan Moti pada Rabu, 5 Agustus 2026, setelah menunggu evakuasi medis selama hampir 10 jam. Pasien yang mengalami pembengkakan pada kaki kanan ini sedianya dirujuk ke Rumah Sakit Darma Ibu pada pukul 08.30 WIT. Namun, rencana tersebut lumpuh akibat keterbatasan armada ambulans laut di lokasi, hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 17.15 WIT saat bantuan tak kunjung datang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, belum memberikan respons saat dihubungi wartawan terkait keterlambatan speed ambulans laut tersebut. (u)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *