TERNATE – Sebuah percakapan WhatsApp yang diduga melibatkan Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Maluku Utara, Sahril Taher, memunculkan tanda tanya di tengah publik. Percakapan itu menampilkan permintaan pembayaran dana kepada seorang pengurus yayasan SPPG di Maluku Utara.
Tangkapan layar percakapan tersebut beredar melalui Status WhatsApp akun berinisial IPP dan kemudian menyebar di media sosial. Dalam percakapan itu, sosok yang disebut sebagai Sahril berkomunikasi dengan seorang perempuan bernama Diane.
Sosok tersebut menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima teguran berulang dari yayasan pusat karena adanya keterlambatan pembayaran. Ia kemudian meminta Diane memenuhi pembayaran yang disebut berkaitan dengan kebutuhan SPPG.
Diane lantas meminta nomor rekening tujuan pembayaran. Sosok dalam percakapan itu kemudian mengirim rekening atas nama CV Twone Sukses Ciptanusa dengan keterangan transaksi “Pembayaran peralatan dapur MBG”.
Percakapan tersebut kemudian memanas ketika Diane tampak enggan memenuhi permintaan pembayaran. Sosok yang disebut Sahril menyampaikan ancaman akan melaporkan persoalan itu kepada pihak yayasan pusat apabila pembayaran tidak segera dilakukan.
Unggahan yang beredar juga mencantumkan rincian nominal pembayaran. Satu SPPG disebut harus membayar Rp27 juta setiap dua minggu atau Rp54 juta setiap bulan.
Jika angka tersebut dikaitkan dengan 11 yayasan dan 48 dapur SPPG, unggahan itu memperkirakan nilai pembayaran mencapai lebih dari Rp2,5 miliar.
Polemik tersebut mendorong wartawan melakukan konfirmasi langsung kepada Sahril Taher pada Kamis (10/9/2026). Wartawan mendatangi kantor Ketua DPD Gerindra Maluku Utara di Kelurahan Toboko, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate.
Namun, Sahril tidak memberikan penjelasan langsung mengenai percakapan WhatsApp yang beredar. Ia justru mengarahkan wartawan untuk meminta keterangan kepada seorang wartawan bernama Koces.
“Nanti saja langsung dengan Koces e adik, berhubungan dengan Koces saja,” ujar Sahril saat itu.
Sikap tersebut belum menjawab substansi percakapan yang beredar maupun konteks permintaan pembayaran yang tercantum dalam tangkapan layar.
Polemik kemudian memasuki babak baru pada Sabtu (12/9/2026). Seorang perempuan yang diketahui sebagai pengunggah informasi tersebut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Sahril Taher dan Partai Gerindra Maluku Utara.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Diani Hastuti Tiwar. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di salah satu kafe di Kota Ternate.
Diani mengaku mengunggah informasi yang kemudian memicu polemik. Dalam klarifikasinya, ia menyatakan informasi yang sebelumnya ia sampaikan melalui media sosial tidak benar.
“Saya Diani Hastuti Tiwar menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada Bapak Sahril Taher dan Partai Gerindra Provinsi Maluku Utara atas dampak yang timbul akibat dari postingan saya di media sosial,” ujar Diani, Sabtu (12/9/2026).
Diani juga menegaskan bahwa ia menyampaikan permintaan maaf tersebut atas kesadaran sendiri. Ia membantah adanya paksaan dari pihak mana pun.
“Saya dengan kesadaran penuh mengakui apa yang saya sampaikan di media sosial tidak benar dengan permohonan maaf yang saya sampaikan tanpa ada paksaan dari pihak manapun,” katanya.
Dalam konferensi pers tersebut, Diani tampak didampingi Koces. Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Sahril Taher dan Partai Gerindra Maluku Utara.
Klarifikasi Diani memang mengubah arah polemik. Namun, peredaran tangkapan layar percakapan WhatsApp sebelumnya telah menimbulkan pertanyaan publik mengenai konteks komunikasi, permintaan dana, serta rekening yang tercantum dalam percakapan tersebut.
Diani telah menyatakan informasi yang ia unggah tidak benar. Pernyataan itu menjadi bagian penting dalam perkembangan kasus ini.
Di sisi lain, materi percakapan yang beredar tetap membutuhkan verifikasi lebih lanjut untuk memastikan keaslian tangkapan layar, identitas para pihak dalam komunikasi, serta konteks pembicaraan mengenai pembayaran tersebut.
Dengan munculnya klarifikasi dari Diani, publik kini menunggu penjelasan yang lebih terang mengenai polemik tersebut. Terutama terkait bagaimana percakapan itu muncul, apa konteks permintaan pembayaran, dan mengapa informasi tersebut sempat menyebar luas sebelum akhirnya pengunggah menyatakan informasi itu tidak benar. (um)






