Ekspor Maluku Utara Tembus Rp93 Triliun

Kota Ternate60 Dilihat

TERNATE – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Maluku Utara menunjukkan tren positif sepanjang empat bulan pertama 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor daerah ini pada periode Januari–April 2026 mencapai US$5,23 miliar atau sekitar Rp93,46 triliun.

Kepala BPS Maluku Utara, Simon Sapary, dalam siaran pers yang disampaikan Selasa (2/6/2026), mengatakan capaian tersebut meningkat 19,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$4,38 miliar atau sekitar Rp78,16 triliun.

“Nilai ekspor Provinsi Maluku Utara periode Januari–April 2026 naik 19,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2025,” ujar Simon.

Secara bulanan, kinerja ekspor juga menunjukkan pertumbuhan. Pada April 2026, nilai ekspor tercatat sebesar US$1,41 miliar atau sekitar Rp25,10 triliun, meningkat 19,42 persen dibanding April tahun lalu.

Ekspor Maluku Utara masih didominasi tiga kelompok komoditas utama yang menyumbang 95,25 persen dari total ekspor. Komoditas Besi dan Baja (HS 72) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$2,71 miliar atau sekitar Rp48,35 triliun. Meski demikian, nilai ekspor komoditas ini turun 1,82 persen dibanding tahun sebelumnya.

Posisi kedua ditempati Nikel (HS 75) dengan nilai ekspor US$1,99 miliar atau sekitar Rp35,52 triliun. Komoditas ini mencatat kenaikan tertinggi secara nominal, yakni sebesar US$578,88 juta atau tumbuh 41,07 persen.

Sementara itu, Bahan Kimia Anorganik (HS 28) mencatat nilai ekspor US$288,27 juta atau sekitar Rp5,15 triliun. Kelompok ini menjadi komoditas dengan pertumbuhan tertinggi secara persentase, melonjak 65,70 persen atau bertambah US$114,30 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selain tiga komoditas utama tersebut, sejumlah produk lain juga mencatatkan nilai ekspor, antara lain aluminium (HS 76) sebesar US$223,78 juta, lokomotif dan peralatan kereta api (HS 86) sebesar US$0,21 juta, berbagai produk kimia (HS 38) sebesar US$0,14 juta, kapal terbang dan bagiannya (HS 88) sebesar US$0,04 juta, daging dan ikan olahan (HS 16) sebesar US$1.320, serta ikan dan udang (HS 03) sebesar US$270.

Sebaliknya, kelompok Logam Dasar Lainnya (HS 81) mengalami penurunan nilai ekspor sebesar US$8,72 juta atau turun 26,51 persen. Secara keseluruhan, tiga komoditas utama—Besi dan Baja, Nikel, serta Bahan Kimia Anorganik—mencatat pertumbuhan gabungan sebesar 14,82 persen secara tahunan.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama produk ekspor Maluku Utara dengan nilai mencapai US$4,84 miliar atau sekitar Rp86,53 triliun. Angka tersebut setara 95,59 persen dari total ekspor daerah. Komoditas yang paling banyak dikirim ke negara tersebut adalah Besi dan Baja serta Nikel.

Khusus pada April 2026, nilai ekspor Maluku Utara ke Tiongkok mencapai US$1,23 miliar atau sekitar Rp21,99 triliun.

Selain Tiongkok, negara tujuan ekspor terbesar lainnya adalah Korea Selatan dengan nilai US$126,52 juta atau sekitar Rp2,26 triliun. Nilai ekspor ke negara tersebut melonjak 1.286,89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Selanjutnya Turki sebesar US$104,56 juta, Jepang US$82,64 juta, dan Amerika Serikat US$59,39 juta. Sementara negara lainnya secara kumulatif menyerap ekspor senilai US$14,62 juta.

BPS juga mencatat tidak seluruh komoditas asal Maluku Utara dikapalkan langsung melalui pelabuhan di daerah. Sepanjang Januari–April 2026, terdapat ekspor senilai US$266,43 juta atau sekitar 4,85 persen yang dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain.

Pelabuhan di DKI Jakarta menjadi pintu keluar terbesar bagi komoditas asal Maluku Utara dengan nilai pengiriman mencapai US$259,70 juta atau berkontribusi 4,72 persen terhadap total ekspor daerah. (um)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *